Kamis, 27 Januari 2011

Pacar Bohongan

"Kamu mau nggak jadi pacarku?"
Aku mendongak seketika. Dalam hitungan detik mengalihkan tatapanku dari kumpulan soal-soal matematika yang sedari tadi menguras pikiran. Aku celingukan ke kanan, ke kiri, bahkan menoleh ke belakang. Tak ada siapapun, hanya ada aku dan Kay yang sekarang sedang duduk di depanku.
Kupandang wajah gantengnya yang tengah menatapku lekat. Matanya tampak serius. Dia benar-benar sedang bicara denganku! Tapi aku menggeleng cepat. Tidak! Ini pasti mimpi. Kucubit lenganku. Auw! Aku mengaduh. Kay mengulum senyum menertawakan tingkah konyolku
"Sakit?" Dia pasti meledekku. Aku tersenyum kecut menutupi rasa malu.
"Enggak," jawabku cuek. Lalu kembali memelototi soal-soal matematika di depanku. Jam istirahat kali ini terpaksa kuhabiskan di kelas untuk mengerjakan PR matematika yang lupa kukerjakan. Gara-gara kemarin aku keasyikan jalan ke Mall bersama Meta, sahabat yang juga teman sebangkuku.
"Haloooo..."
Astaga! Aku lupa kalau Kay masih duduk di depanku.
"Eh...kamu masih di sini?" Aku masih memasang tampang cuek. Padahal sungguh hatiku sedang berlompatan saat ini. Berada sedekat ini dengan salah satu cowok idola di sekolahku adalah impian semu gadis di sekolah ini. Kecuali aku. Dalam mimpi pun aku nggak berani membayangkannya. Karena kalau aku nekat ikut 'beraksi' di depan Kay -seperti cewek-cewek yang lain- sama saja dengan pungguk yang mencari perhatian bulan. Aku cukup tahu diri untuk tidak ikut berkompetisi memperebutkan sang idola.
Sebenarnya aku nggak jelek-jelek amat sih. Bahkan sampai saat ini, Fendy masih mengharapkan aku untuk jadi pacarnya. Menurut beberapa teman, aku cukup cantik. Bahkan ada yang bilang manis. Meski terkesan cuek, tapi aku ramah dan asyik buat berteman. Dan kalau boleh aku menambahkan, aku termasuk cewek yang baik hati, tidak sombong dan gemar menabung (hohoho). Tapi itu saja takkan cukup untuk menjadikanku sebagai kandidat calon pacar Kay. Untuk ukuran cowok sekeren Kay, dia butuh cewek yang lebih dari aku.
"Aku menunggu jawabanmu," suara Kay membuyarkan alam pikiranku. Cowok itu masih di tempatnya dengan tatapan tajam yang bertitik padaku.
"Pertanyaannya?" Aku berlagak bodoh.
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Kay mengulang pertanyaannya yang tadi. Berarti aku nggak salah dengar. Aku bersorak dalam hati. Kay memintaku untuk jadi pacarnya! Hampir saja tubuhku melayang, namun logikaku segera menghentikannya.
"Kenapa aku harus jadi pacarmu?" Aku berusaha bersikap setenang mungkin. Jangan sampai Kay menilai aku sama dengan cewek-cewek lain yang kegenitan di depannya.
"Apakah harus ada alasannya?"
Jawaban Kay membuatku sedikit kecewa. Aku teringat dengan komik cinta yang sering kubaca. Jika menurut komik yang kubaca, harusnya dia bilang "karena aku sayang padamu", tapi jawaban Kay jauh dari yang kubayangkan.
"Apakah kamu ingin aku melindungimu?"
Lagi-lagi aku teringat dengan cerita sebuah novel yang baru-baru ini pernah ku baca. Cerita tentang sepasang kekasih yang terpaksa pacaran dikarenakan sang cowok termasuk salah satu cowok keren di sekolah. Dan dia merasa kurang nyaman karena banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mencari perhatiannya. Karenanya tokoh tersebut mencari cewek yang bisa dijadikan pacar untuk melindunginya.
"Maksudmu?" alis Kay bertaut. Hatiku melompat lagi. Kalau situasinya nggak begini, sudah kukecup mata Kay yang menggemaskan itu.
"Aku tahu banyak cewek yang mengejar kamu dan ingin jadi pacarmu. Kamu pasti repot menghadapi mereka. Kamu butuh cover untuk melindungimu. Karena kalau mereka tahu kamu udah punya pacar, otomatis mereka akan menjauh," Aku nyerocos dengan argumentasi yang sok tau.
"Menurutmu begitu?"
"Iya," jawabku yakin.
"Andai situasinya seperti itu, kamu mau jadi pacarku?"
"Boleh aja," jawabku santai. "Toh aku juga nggak rugi apa-apa."
Kay membuang nafas. Senyumnya tawar. Terlihat dipaksa. Aku tak mampu menerjemahkan maksudnya.
"Baiklah," tukasnya. "Mulai sekarang kita jadian."
Aku mengangkat bahu. "Oke."
Masih kucoba bersikap sedatar mungkin. Padahal hatiku jadi nggak karuan. Ternyata benar dugaanku, Kay hanya ingin memanfaatkanku. Tapi aku nggak bisa menarik omonganku kembali. Ada secuil kecewa dalam batinku, namun aku nggak bisa apa-apa.

Kay berlalu tanpa sepatah kata. Pamitpun tidak. Pacar macam apa itu? Batinku memaki.
Di depan pintu kelas, Kay berpapasan dengan Meta. Mereka sempat saling melempar senyum untuk menyapa. Lalu Kay meninggalkan kelasku. Mungkin langsung kembali ke kelasnya di XII IPA 2. Karena jam istirahat sudah habis. Beberapa teman mulai berdatangan kembali ke bangku masing-masing. Meta duduk di sampingku. Matanya tak lepas sedikitpun dariku. Aku balas menatapnya sembari menggigit ujung pulpen.
"What?" tanyaku ketus.
"Ngapain ketua OSIS tadi kesini?"
"Maksudmu Kay?"
"Iyalah. Memangnya kita punya ketua OSIS berapa sih?"
"Dia nembak aku," jawabku tak acuh.
"Bohong lu!"
"Apa kamu pernah lihat aku berbohong?"
"Ya ampun,Mayla!" suara Meta yang melengking naik beberapa oktaf berhasil menarik perhatian seisi kelas. Seluruh mata serempak tertuju pada kami meski tanpa aba-aba. Dengan sigap kuringkus mulut Meta dengan tanganku.
"Hehehe...Becanda, prend," aku nyengir ke arah teman-temanku. Merekapun meresponnya dengan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang geleng-geleng kepala, ada pula yang langsung cuek tak peduli. Meta membuka tanganku yang masih membungkam mulutnya dengan kesal.
"Apaan sih?" sungutnya.
"Apa yang aku bilang tadi rahasia kita berdua. Aku nggak mau semua jadi heboh. Bisa-bisa aku dibantai para penggemar Kay. Kamu tau sendiri khan kalau banyak yang ngefans sama dia?"
"Jangan-jangan kamu bohongin aku?" mata bola Meta membulat. "Mana mungkin Kay nembak kamu?"
Aku meringis mendengar kalimat Meta. Memang tak mungkin seorang Kay yang cakep, ketua OSIS, jago basket, nembak gadis sepertiku. Aku terlalu sederhana buatnya. Meski hanya sebatas 'pacar bohongan', tapi nggak akan ada yang percaya kalau kami sudah jadian.

Matahari menyergap dengan sinarnya yang menyengat saat aku keluar dari pintu gerbang sekolah menuju halte bus yang jaraknya hanya 100 meter dari sekolahku. Meta berjalan ringan di sampingku. Pukul dua siang kami pulang sekolah, namun matahari masih saja meninggi.
"Kalau Kay pacarmu, kenapa kalian nggak pulang bareng?" Mulai deh. Jiwa gosip Meta mulai kumat.
Aku pura-pura tak mendengar pertanyaaan jebakan Meta. Kuayunkan langkah lebih cepat saat kulihat bus yang biasa kami tumpangi berhenti di halte menunggu penumpang. Sedikit berlari, Meta membuntutiku. Kami harus bergegas naik bus itu, kalau nggak terpaksa nunggu setengah jam lagi untuk bus berikutnya.
"Mayla!"
Aku hampir melompat ke dalam bus saat sebuah suara meneriakkan namaku. Meta ikut menoleh ke arah sumber suara. Kay menghentikan motornya di depan bus yang hendak ku tumpangi.
"Aku anter pulang." Kay menyodorkan sebuah helm padaku.
"Kenapa?" keningku berkerut.
"Boleh khan kalau aku ingin nganterin pacarku pulang?"
Jawaban Kay berhasil membuat Meta membelalakkan matanya. Tanpa sadar ia melihat aku dan Kay bergantian dengan mulut terbuka.
"Tapi...Meta..." Aku ingat Meta. Nggak enak rasanya kalau membiarkannya pulang sendiri karena kami sudah biasa pulang bareng. Bisa-bisa aku dicap nggak setia kawan kalau tiba-tiba meninggalkannya seperti ini.
"Meta, keberatan kalau Mayla aku pinjam?" Kay bertanya pada Metra yang masih terbengong-bengong. Pertanyaan itupun mampu mengembalikan Meta ke alam sadar.
"Tentu...tidak..." Meta tergagap.
"Kamu nggak apa-apa pulang sendiri, Ta?" Aku memastikan.
"Nggak apa lah, May...buruan sono! Ditunggu pacarmu tuh."
Kata 'pacarmu' yang sengaja ditekankan pada Meta membuatku nyengir. Bergegas kuraih helm yang sedari tadi disodorkan Kay padaku. Memakainya, lalu aku melompat naik ke atas sadel. Duduk di belakang Kay.
"Pegangan!" suara Kay bernada memerintah. Agak ragu kusentuh pinggangnya. Tapi tangannya dengan sigap meraih tanganku melingkar di perutnya hingga aku sukses memeluk pinggangnya.
Tiba-tiba suara klakson bus menyalak mengagetkan kami. Aku baru tersadar kalau motor Kay menghalangi bus karena berhenti tepat di depannya. Bisa jadi tingkah laku kami tadi menarik perhatian sebagian penumpang yang ada dalam bus tersebut.
Aku menengok ke belakang. Kulihat Meta buru-buru masuk ke dalam bus, namun sebelumnya sempat kulihat dia mengayunkan jempolnya kepadaku sambil tertawa lebar.

Kay membawa motornya dengan kecepatan sedang. Aku membisu di belakang punggungnya yang bidang. Sungguh jantungku berdetak tanpa nada. Bila ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku dulu! Tanganku memeluk perut Kay dengan erat. Atau kucubit saja perut itu, ingin tau reaksi Kay. Kalau dia menjerit, berarti ini bukan mimpi. Tapi gimana kalau dia marah trus aku diturunkan di pinggir jalan? Akhirnya rencana nakalku itu kugagalkan. Mimpi ataupun bukan, yang penting hari ini aku bahagia. Kalau ada penggemar Kay yang melihatku sedang memeluk idolanya saat ini, pasti banyak yang histeris. Bahkan mungkin bunuh diri. Hihihi... Aku menyeringai dalam hati.

Kay berhenti tepat di depan rumahku. Aku sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ia bisa tahu letak rumahku dengan tepat? Seingatku aku belum pernah memberinya alamat ataupun denah rumahku padanya. Niat untuk menanyakan hal itu padanya kuurungkan karena sepertinya Kay tak berminat mampir ke rumahku.
"Mulai sekarang aku antar jemput kamu ke sekolah, ya?"
"Kenapa?" Tanyaku sambil menyerahkan helm yang tadi kupakai kepadanya.
"Kenapa sih kamu selalu butuh alasan atas semua yang aku lakukan? Kita khan pacaran, jadi boleh dong aku antar jemput kamu?"
"Pacar bohongan!" sergahku cepat.
"Apapun itu! Tapi aku ingin kita bersikap seperti pacar beneran."
"Iya deh."
"Ok, besok aku jemput sebelum jam setengah tujuh."
Usai berkata begitu, Kay melesat pergi dari hadapanku. Lagi-lagi tanpa pamit! Huh dasar cowok cakep yang nggak tau etika, sungutku sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Sejak saat itu kedekatanku dengan Kay menjadi berita hangat di kalangan siswa di sekolahku. Tiap sudut sekolah membicarakan kami. Tak perlu menelusuri darimana datngnya sumber berita itu. Aku tahu siapa biangnya. Tak ada rahasia yang aman di tangan Meta. Aku bagai artis dadakan yang tiba-tiba menjadi terkenal dan di bicarakan banyak orang. Tapi aku nggak peduli. Masih dengan styleku yang super cuek, walaupun sekarang aku punya banyak musuh dadakan, yang seratus persen berasal dari penggemar Kay yang patah hati, gara-gara hubunganku dengan Kay. Ada yang sinis, mencibir, bisik-bisik, bahkan terang-terangan meludah di depanku. Lagi-lagi aku nggak peduli. Biar saja mereka repot sendiri. Toh kenyataannya aku dan Kay nggak ada hubungan apa-apa. Aku cuma jadi perisai buat dia. Dan berhasil! Buktinya sekarang Kay bisa bermain basket dengan tenang tanpa gangguan gadis-gadis yang berlomba-lomba menarik perhatiannya.
Tapi sekarang justru aku yang jadi rajin menungguinya di tepi lapangan basket. Duduk sambil memeluk ransel Kay dan membawakan sebotol air mineral untuknya. Kalau bukan untuk menunggunya mengantarkan aku pulang sekolah, nggak bakal deh aku mau buang-buang waktu begini. Aku lebih milih di rumah ngerjain PR atau membaca novel yang kemari baru aku beli.
"Belum pulang, May?" Aku terpaksa mengangkat kepala mencari pemilik suara yang menyapaku. Fendy berdiri tegak di sampingku.
"Kamu sendiri?" Aku balik bertanya.
"Aku nunggu Kay. Ada perlu sedikit masalah OSIS," Aku baru ingat kalau Fendy juga pengurus OSIS.
"Oh..."
"Kalau kamu? Kok belum pulang?"
"Sama denganmu."
"Maksudmu?"
"Nunggu Kay." Kening Fendy mengerut.
"Jadi kalian beneran pacaran?" Nadanya sinis. Mungkin cemburu. Karena Fendy masih saja bilang suka padaku meski aku selalu bersikap cuek padanya.
"Kamu beneran pacaran dengan Kay?" Fendy mengulang pertanyaannya. Aku mengangkat bahu. Malas jawabnya. Sebenarnya akhir-akhir ini aku mulai malas "pacaran" dengan Kay. Bukan karena dia bersikap buruk padaku. Justru Kay memperlakukanku dengan sangat baik. Sejak kami jadian dua bulan lalu, dia memperlakukanku selayaknya pacar beneran. Antar jemput sekolah, ke kantin berdua, jalan ke Mall, bahkan malam minggupun rutin apel ke rumahku.
Tapi hatiku kosong. Tak sekalipun Kay bilang cinta ataupun rindu padaku. Lama-lama aku lelah jadi pelindungnya. Capek jadi pacar palsunya. Capek membohongi nurani. Kadang tanpa sadar aku ingin berbisik di telinganya kalau aku sayang dia.

"Ada apa ini? Kok kalian berduaan di sini?" Tiba-tiba Kay muncul di hadapan kami. Kuangsurkan handuk kecil padanya dan diapun mengelap keringat di wajahnya. Kay ini bener-bener deh! Udah keringetan masih cakep aja. Aku menggerutu dalam hati.
"Aku nggak nggangguin pacarmu kok, Kay,"sahut Fendy cepat. "Aku sengaja menunggumu mau nyerahin laporan anggaran Pensi yang di adakan bulan depan." Fendy menyerahkan map yang sedari tadi di bawanya. Kay membacanya sebentar kemudian manggut-manggut.
"Ok... Thanks ya?"
"Ok... Kalau gitu aku duluan ya?" Fendy pamit. Sempat melirikku sebentar lalu pergi.

Kay meraih botol air mineral di pangkuanku lalu menenggaknya beberapa kali tegukan. Aku diam saja memperhatikannya tanpa bicara. Ingin rasanya aku menyentuhnya. Bahkan kalau bisa memeluknya. Bermanja-manja layaknya pacar beneran. Nggak seperti sekarang ini. Kami berakting di depan orang lain. Sampai-sampai aku berpikir kalau kami berbakat jadi pemain sinetron.
Tapi tak ada yang tau batinku yang tersiksa. Aku tak bisa mengatakan perasaanku padanya. Dia kekasihku, tapi aku tak bisa memiliki hatinya. Uh... Aku menggigit bibir, menekan nyeri yang tiba-tiba menyergap dada.
"May..." Suara Kay yang tenang menyadarkanku. Entah sejak kapan dia sudah duduk di sampingku. "Kita putus yuk?"
Kalimat Kay menyambar telingaku. Rasanya seperti di sambar kereta ekspres jurusan Surabaya-Jakarta. Kay memutuskanku! Aku merasa terlempar ke dalam jurang yang paling dalam dan batu-batu cadas menangkap tubuhku.
Tidak bisa!
Dia sudah mempermainkanku habis-habisan. Tiba-tiba mengajakku pacaran lalu memutuskanku begitu saja. Rasanya ingin kucabik-cabik wajah gantengnya atau kuhantam saja dengan ranselnya yang masih kupeluk. Namun aku hanya bisa mematung di tempatku. Tak mampu bergerak apalagi bicara.
"Aku ingin berhenti jadi pacar palsumu. Aku nggak bisa terus-terusan bersandiwara denganmu," Kay melanjutkan kalimatnya. Aku masih membisu sambil menyusun hatiku yang berserakan. Kami memang pacar bohongan, tapi sekarang aku merasa patah hati beneran.
"Hatiku tersiksa,May," Kay terus bicara. Sebenarnya aku tak ingin mendengar dia mengeluhkan penderitaannya selama dekat denganku. Tapi aku nggak mampu menutup telinga. "Aku nggak mau jadi pacar bohongan terus. Aku ingin punya pacar beneran. Aku ingin memeluk pacarku. Membisikkan kata sayang dan rindu padanya."
Hey... Itu khan keinginanku juga? Bagaimana mungkin kami punya pikiran yang sama?
"Kenapa kamu nggak menyadarinya, Mayla? Kenapa kamu nggak bertanya bagaimana usahaku mencari tau rumahmu? Padahal itu semua demi kamu! Aku ingin menyentuhmu dan membisikkan kata cinta padamu..."
Kalimat Kay membuatku terperangah. Bola mataku membulat menatapnya. Tak yakin dengan apa yang kudengar. Tapi Kay terus melanjutkan kalimatnya.
"Dari pertama aku nembak kamu, aku beneran serius sama kamu. Tapi kamu malah menafsirkannya lain. Aku terpaksa menuruti jalan pikiranmu karena aku ingin jadi pacarmu. Aku beneran sayang kamu. Aku nggak mau jadi pacar bohonganmu. Kamu bukan perisaiku, Mayla! Aku ingin jadi pacarmu. Aku..."

Kalimat Kay terhenti. Dia tak melanjutkan ucapannya karena lenganku menggayut manja melingkar di lehernya. Bola mata kami beradu. Saling bertukar rindu. Ada secercah cahaya yang berbinar di dalamnya. Senyum Kay perlahan merekah untukku. Namun tak berapa lama senyum itu lenyap. Membungkam bibirku...hangat.


S E L E S A I

1 komentar:

  1. Pengen duonk,,,,,bibirku dibungkam ma kay,,,,,,wuakakakakakak,,,,jadi ngiri

    BalasHapus